Ads Top

Ojek Online itu Bantu Masyarakat Miskin Kota

IDNViral.com - "Ledakan penduduk telah menciptakan kota paling padat di dunia," kata pendiri bisnis ojek online Indonesia, Go-Jek. Ibukota raksasa di pulau Jawa memiliki populasi diperkirakan lebih dari 10 juta orang, dengan terhitung sekitar 30 juta jiwa. Para pelaku bisnis mengatakan biasanya penumpang sangat sulit dalam menemukan taksi atau ojek.  Jadi apa solusinya? Semua pertanyaan pasti ada solusinya. Sekarang sudah tidak perlu khawatir karena telah dibuka layanan GOJEK online.
Perusahaan Go-Jek  diluncurkan pada tahun 2011 sebagai sebuah bisnis transportasi  sederhana. Sekarang telah berkembang menjadi pelayanan multiaset dan penyedia transportasi murah berbasis aplikasi.

"Saya mungkin bukan orang pertama yang datang dengan ide Go-Jek," Nadiem Karim mengakui.
"Banyak orang sebelum saya telah memikirkan hal itu juga. Hanya saja kami yang pertama untuk mengeksekusi ini dalam skala besar," tegasnya.


Lulusan Harvard Business School ini mengatakan ia mulai dengan mendekati kelompok ojek sepeda motor resmi di Jakarta. Disebut sebagai "ojeks", driver motor ini bekerja dalam kelompok-kelompok di jalan-jalan kota yang menawarkan kepada siapa pun untuk naik  dengan tarif lebih murah. Mereka ahli  keluar dan masuk pada lalu-lintas berat dan dianggap sebagai cara yang paling efisien dan termurah dari satu tempat ke tempat lain.

"Saya sedang melakukan magang di musim panas selama waktu sekolah. Saya baru saja bergaul dengan ojek jalanan sambil membeli kopi dan mencari tahu bagaimana kondisi ekonomi mereka." kata Pak Nadiem Karim.

"Saya ingin mencari tahu ... Apa yang mereka lakukan dan mereka tidak lakukan untuk pekerjaan mereka. Dan saat itulah saya  segera menyadari ada begitu banyak lagi orang-orang bisa melakukan ini. Mereka bekerja 14 jam perhari dengan tidak banyak istirahat. Namun, mungkin hanya melayani  lima pemesanan sehari."

Jadi Pak Nadiem Karim merekrut beberapa driver untuk bekerja sebagai freelancer dalam  bisnis start-up tersebut.

Awalnya beroperasi dari sebuah apartemen kecil dengan beberapa staf panggilan untuk pengiriman "dari sebagian besar keluarga dan teman-teman", Go-Jek telah mengubah dirinya menjadi layanan aplikasi mobile dengan sekitar 200.000 driver freelance bersama-sama dengan ratusan penyedia layanan lainnya.

"Dalam waktu tiga bulan, tiga juta orang telah mengunduh aplikasi. Ini merupakan sesuatu yang kita benar-benar harapkan," kata Pak Nadiem Karim.

"Kami mencapai target akhir  tahun hanya dalam dua bulan. Dalam setahun kami memiliki lebih dari 11 juta download, yang melampaui segala harapan kami."

Pelanggan dapat menggunakan aplikasi untuk memesan ojek motor, memesan pengiriman makanan, jasa kebersihan, dan kecantikan door to door. Go-Jek baru saja meluncurkan Go-Car dan setelah bermitra dengan beberapa bank terbesar di Indonesia, perusahaan sedang dalam proses pembuatan sistem pembayaran gratis.

Transformasi dari start-up untuk sebuah bisnis yang kompleks  tidak mudah, Pak Nadiem Karim mengakui. Sejak 2011 sudah ada banyak tantangan.

"Sistem kami hampir meledak dan berlebihan setelah diluncurkan. Lalu ada larangan 12-jam pada transportasi berbasis aplikasi-di Indonesia. Kami sangat gembira ketika keputusan itu dibatalkan oleh presiden dan wakil presiden.”

Pesaing utama di sektor bisnis ojek online termasuk perusahaan transportasi berbasis aplikasi Uber dan Grab. Awal tahun ini, demonstrasi jalanan yang dipimpin oleh sopir taksi tradisional terhadap perusahaan seperti Uber berubah menjadi kekerasan . Adegan dari jaket Go-Jek yang dibakar di jalan-jalan menjadi berita utama dan beberapa driver Go-Jek terluka selama demonstrasi. "Itu adalah masalah besar yang terjadi . Tapi kami bisa melalui kejadian itu," kata Pak Nadiem Karim. 

"Pemerintah di belakang kami, sangat mendukung, dan selama kita meningkatkan kesejahteraan rakyat di negeri ini, maka kami pikir orang pada akhirnya akan mendukung kita".
Powered by Blogger.